Rabu, 17 Des 2025
Infrastruktur

Kritik Pedas Masyarakat Tanggamus: Proyek Tambal Sulam Jalan Provinsi di Limau Dinilai Asal-asalan

Tanggamus.   —–    Mata Elang.com

Proyek perbaikan jalan raya Provinsi di Pekon Antar Brak, Kecamatan Limau, Kabupaten Tanggamus, yang berada di bawah pengawasan UPTD V Dinas Pekerjaan Umum, memicu kritik keras dari masyarakat setempat.

Proyek yang baru dimulai ini dinilai jauh dari kata maksimal dan terkesan dikerjakan secara asal-asalan, menimbulkan kekecewaan mendalam setelah penantian perbaikan jalan yang bertahun-tahun.

​Sorotan Utama: Kedalaman Galian dan Komposisi Material

​Masyarakat menyoroti teknik pengerjaan sistem tambal sulam yang dianggap tidak sesuai dengan tingkat kerusakan parah di lokasi perbaikan. Titik-titik yang diperbaiki merupakan bekas kubangan air yang sangat dalam, yang sebelumnya terpaksa ditimbun seadanya oleh warga secara swadaya.

​Kritik utama masyarakat tertuju pada dua aspek vital pengerjaan: kedalaman galian dan komposisi material fondasi.

​1. Galian Terlalu Dangkal

​Pekerja dilaporkan hanya melakukan penggalian setebal lapisan hotmix bangunan lama. Menurut warga, kedalaman galian tersebut tidak memadai.

​”Galiannya terlalu dangkal, hanya seadanya. Padahal, dulu di sini kubangan dalam. Kalau hanya menggali setebal lapisan hotmix lama, itu tidak akan bertahan lama,” ujar salah seorang warga yang enggan disebut namanya.

​Warga berpendapat, galian seharusnya dibuat lebih dalam dan maksimal untuk menghilangkan seluruh lapisan tanah timbunan warga serta struktur tanah yang labil di bawahnya. Kegagalan untuk menggali dan membersihkan secara tuntas bekas timbunan air dan tanah dikhawatirkan akan menyebabkan permukaan jalan kembali labil.

​”Jika permukaan labil, struktur aspal baru akan mudah bergeser dan ambles. Ini sama saja mempercepat kerusakan,” tegas warga lainnya.

​2. Material Fondasi Dinilai Lemah

​Aspek kedua yang disoroti adalah susunan material dasar (agregat) yang digunakan. Material yang ditimbun hanya berupa pecahan batu kecil bercampur dengan batu bulat.

​Masyarakat khawatir, tanpa penggalian maksimal dan penimbunan menggunakan susunan batu pecahan yang berukuran besar (agregat kasar) sebagai fondasi yang kokoh, jalan tersebut diprediksi akan rusak kembali dalam hitungan hari.

​Tuntutan Masyarakat: Solusi Permanen, Bukan Obat Sementara

​Kekhawatiran ini mencerminkan frustrasi warga yang merasa penantian bertahun-tahun untuk mendapatkan jalan layak berakhir dengan proyek yang tidak sesuai harapan.

​Masyarakat secara tegas menuntut UPTD V dan pihak kontraktor agar segera mengevaluasi dan memperbaiki metode pengerjaan. Mereka meminta:

  • ​Penggalian dilakukan lebih mendalam.
  • ​Pembersihan dasar lubang dilakukan secara optimal.
  • ​Material fondasi yang digunakan memiliki daya tahan yang memadai (menggunakan agregat kasar yang kokoh).

​Proyek perbaikan jalan ini diharapkan dapat menjadi solusi permanen bagi masalah infrastruktur di wilayah tersebut, bukan sekadar “obat sementara” yang menghabiskan anggaran namun tidak menjamin kualitas infrastruktur jangka panjang.(Red.)



Baca Juga