
Tanggamus —– Mata Elang.com
Proyek pembangunan tambal sulam jalan raya di wilayah UPTD V, tepatnya di Desa Antar Brak, Kecamatan Limau, Kabupaten Tanggamus, kembali menuai kritik tajam dari masyarakat. Pasalnya, belum genap sepuluh hari rampung dikerjakan, lapisan hotmix pada area tambalan sudah menunjukkan tanda-tanda kerusakan parah, berupa retak dan gelombang. Rabu (3/12/2025).
Kekhawatiran masyarakat setempat, yang sejak awal pengerjaan telah melayangkan kritik keras, kini terbukti. Mereka menilai, proyek tambal sulam ini dikerjakan secara asal-asalan dan mengabaikan standar kualitas yang seharusnya.
Sejumlah indikasi pengerjaan yang tidak profesional disoroti oleh warga. Salah satunya adalah pemilihan dan susunan material dasar. Material batu sebagai landasan tambalan dinilai hanya terdiri dari batu-batu kecil dan rapuh, tidak sesuai dengan spesifikasi material penguat dasar yang kokoh.
Selain itu, proses penggalian (pengupasan) areal jalan yang rusak juga hanya dilakukan ala kadarnya dan terlihat dangkal. Masyarakat juga mencatat bahwa lapisan material hotmix yang diaplikasikan terlalu tipis, disinyalir menjadi penyebab utama mengapa tambalan tersebut begitu cepat rusak.
”Kami sudah sampaikan sejak awal, cara kerjanya ini aneh. Penggaliannya dangkal, batu dasarnya cuma batu kecil, bahkan ada sisa material batu bekas yang rapuh dipakai. Ternyata benar, belum dua minggu sudah retak dan bergelombang,” ujar salah seorang warga setempat.
Sorotan lain tertuju pada sistem pemadatan material yang dinilai kurang maksimal. Di beberapa titik, terlihat jelas kontur jalan menjadi cekung dan bergelombang karena proses pemadatan yang tidak merata.
Bahkan, di sisi jalan, nampak material hotmix sudah terkelupas, yang diduga kuat karena tidak tersentuh alat pemadat secara sempurna saat proses finalisasi. Kondisi ini memperkuat dugaan bahwa proyek ini hanya bersifat “kosmetik” dan bukan perbaikan struktural yang bermutu.
Masyarakat mendesak pihak terkait, khususnya UPTD V dan Pemerintah Kabupaten Tanggamus, untuk segera melakukan peninjauan ulang dan evaluasi total terhadap proyek ini. Proyek yang dibiayai oleh uang rakyat tersebut dianggap sebagai pekerjaan abal-abal dan tidak bertanggung jawab, yang hanya akan membuang-buang anggaran tanpa memberikan manfaat jangka panjang.
Warga berharap agar kontraktor pelaksana diberikan sanksi tegas dan diminta segera memperbaiki kerusakan tersebut sesuai spesifikasi teknis yang benar, tanpa membebani anggaran negara kembali. (Red).